CERPEN

Senja Sang Fajar
 “Hai, perkenalkan nama saya Sandra Cintara, biasa di panggil Rara. Saya siswa baru pindahan dari Jakarta”. Rara segera menuju tempat duduk yang kosong setelah di persilahkan oleh gurunya.. “Halo Rara, aku Sastri” Rara menoleh dan dilihatnya seorang siswa perempuan yang bernama Sastri tersebut. “Halo” Sapa Rara dengan ragu seraya memperhatikan penampilan siswi lusuh tersebut.
Seluruh siswa pun mengeluarkan buku biologi lalu mulai memperhatikan penjelasan guru, namun tidak dengan Sastri. Ia hanya memandang papan di depannya sambil senyum-senyum sendiri. Rara kembali memandang Sastri dengan heran. “Apa yang lucu Sas?” tanya Rara. “Ahh? Gak ada kok Ra. Aku lagi seneng aja. Akhirnya aku punya temen lagi di kelas ini” Rara yang sedikit bingung pun kembali bertanya “Lah bukannya semua anak di kelas ini temenmu ?” Sastri menoleh Rara dan tersenyum sinis “Jangan tertipu wajah polos mereka ya Ra” Rara kembali bingung dan menggumam tidak percaya “Apa mereka sejahat itu?”
Bel jam terakhir berbunyi, dan para siswa mulai berkeliaran untuk beristirahat. Rara tetap penasaran dengan penjelasan Sastri tadi. Ia mencari Sastri di sekitar kantin namun tidak kunjung menemukannya. Saat melintasi sebuah ruangan, Rara menoleh dan melihat beberapa temannya sedang mengerjakan sesuatu. Rara bingung, mengapa teman-temannya sibuk di saat jam istirahat? Ia memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang temannya, Yudi. “Halo, kau teman sekelasku kah?” Yudi hanya menganggukkan kepala tanpa melihat Rara. Rara kembali bertanya, apa yang sedang mereka lakukan di kelas tersebut. Yudi menjelaskan kepada Rara “Ra, maaf ya sebelumnya tapi sekarang kami sibuk buat tugas. Tolong jangan ganggu” Rara pun pergi setelah meminta maaf. Ia tetap bingung. Tugas? Tugas apa yang Yudi maksud? Rara tidak menghiraukan maksud Yudi tadi dan kembali mencari Sastri. Akhirnya, Rara menemukan Sastri sedang duduk di bawah pohon rindang yang ada di belakang kantin.
SMA Candrawidya adalah sekolah favorit di kabupaten Buleleng. Sekolah ini selalu menjadi sorotan akan prestasi-prestasi yang berhasil di raih para siwanya. Sebelum pindah ke sekolah ini, Rara selalu merasa tertarik dengan SMA Candrawidya.  Para siswa yang semuannya terlihat pintar sungguh sangat menarik hatinya. Dan kini keinginannya terwujud. Di bawah pohon rindang ini ia duduk bersama Sastri, siswa SMA Candrawidya yang sedang serius membaca buku pelajaran kimia. “Kok sendirian Sas,?” Sastri menoleh dan tersenyum pada Rara “iya Ra, aku lebih asik sendiri” “Aku ganggu ya?” tanya Rara ragu. “Hmm gak kok. Tapi maaf, aku hanya bisa mendengar ucapanmu, aku gak bisa bales omonganmu kalau aku lagi belajar” Rara pun terdiam sambil mengayun-ayunkan kakinya dan bersiul merdu.
Hari demi hari Rara lalui di sekolah itu. Namun semuanya tidak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya. Teman-teman pendiam yang selalu rajin membaca, tidak pernah menghiraukan keberadaan satu sama lain. Mungkin itulah yang membuat Sastri cenderung menyendiri. Karena baginya, tiada hal yang lebih penting dari belajar.
Suatu ketika, Rara mendapati teman-teman sekelasnya sedang berkumpul di kantin. Rara yang penasaran dengan apa yang sesungguhnya terjadi pun memutuskan untuk mendekati gerombolan tersebut. “hmm permisi temen-temen, boleh aku gabung?” ucap Rara sopan. Yudi pun menjawab “Rara? Kok tumben gak sama Sastri?”. Tanpa basa basi lain Rara pun mengutarakan maksud utamanya. “Gini ya temen-temen, aku kan baru disini, jadi masih belum ngerti situasi kalian. Bisa tolong ceritain apa yang sebenernya terjadi gak? Kenapa kelas kalian terpecah-belah gini?” Anak-anak yang berada di sekitar kantin pun terkejut dengan ucapan tiba-tiba Rara yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Dengan wajah menimbang, akhirnya Sari angkat bicara “Gini ya, Ra. Kami gak ngerti dengan jalan pikiran Sastri. Dia menganggap kami seperti benalu yang bersifat parasit. Jadi awalnya biasa aja sebelum suatu ketika kami diminta untuk bekerja kelompok. Nah kebetulan aku, Yudi, Sinta, Arda, Bima, Tika dan Sastri itu satu kelompok. Nah saat pengerjaan tugasnya itu, Sastri gak nganggap kami kelompoknya. Dia ngerjain semuanya sendiri. Kami hanya di suruh untuk buat cover, kata pengantar, daftar isi, daftar pustaka, ngeprint dan jilid” ucap Sari panjang lebar. Setelah mengambil napas, Sari pun melanjutkan “Emang sih dia pinter dan sebenernya waktu itu kita sih fine-fine aja yang penting tugasnya kelar. Tapi semakin lama, sastri jadi semakin ambisius. Dia ga pernah mau bantu kita dalam belajar. Jangankan ngasi jawaban, nyentuh buku catetannya pun dilarang. Akhirnya ya udah, jika Sastri nganggap kita ga ada, ya udah kita juga nganggap demikian”. Setelah Sari menyelesaikan keterangannya, Yudi pun menambahkan “Pernah juga suatu ketika, Arda si ketua OSIS dan pemegang juara 2 umum hampir merebut juara 1 umum yang dulu di dapat Sastri. Tau gimana reaksi Sastri? Dia belajar mati-matian. Tiada hari tanpa belajar baginya” akhirnya Rara mengerti kondisi kelas mereka. Namun, tanpa ingin terpancing, Rara memutuskan untuk pergi menemui Sastri.
“Hai Sastri, lagi belajar?” Sastri pun menoleh dan mendapati Rara sedang tersenyum dihadapannya. “Ra, kan aku sudah bilang, kalau aku lagi baca jangan di-“ “ganggu?” Rara memotong ucapan Sastri yang sedikit kesal. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Akhirnya Rara pun angkat bicara “maaf kalau aku ganggu, tapi aku mau ngomong sesuatu” “ya ngomong aja, aku dengerin sambil baca” ucap Sastri ketus. “Sastri, ini serius. Aku Cuma butuh waktu lima menit”. Akhirnya sastri menoleh dan menutup bukunya. “Apa sih ambisimu Sas,? Kenapa rajin banget belajar? Kenapa temen-temen ngejauh dan akhirnya kamu menyendiri?” Sastri tercekat, ia tak menyangka Rara akan melemparinya berbagai pertanyaan “Aku ga butuh orang yang nyusahin. Mereka cuma bisa mengambil ilmu-ilmu yang sudah susah payah aku simpan di otakku dan suatu saat akan mengalahkanku dengan cara licik. Aku yakin bahwa akulah yang terbaik. Gak ada yang boleh ngerebut posisiku.” Rara termenung mendengar penjelasan Sastri. Memang benar yang dikatakan teman-teman tadi, bahwa Sastri sangat ambisius. “Aku adalah anak tunggal, aku dituntut untuk menjadi juara umum oleh orang tuaku. Beberapa tahun lalu, perusahaan ayahku bangkrut. Akhirnya keluargaku hidup susah. Semenjak itulah aku bertekad untuk menjadi orang sukses dan belajar sekuat tenaga”. “Tapi orang pintar belum tentu sukses, Sas” ucap Rara tiba-tiba. “Orang sukses adalah orang yang pintar mencari peluang. Ini sih tergantung pilihanmu, apa kamu akan terus menghabiskan waktumu untuk belajar dan menyiakan teman-temanmu?” Sastri kembali emosi dan membalas “Gak ada kata sia-sia untuk belajar”. “Baiklah, udah 5 menit. Pesan terakhirku sih, jangan sia-siakan masa SMA mu. Aku pergi dulu Sas” akhirnya Rara pergi menuju ke kelasnya untuk menenangkan diri.
                Suatu ketika, Rara mendengar kabar bahwa Sastri mengalami sakit thypus dan sedang di rawat di rumah sakit. Teman satu kelasnya tidak ada yang mengetahui berita tersebut. Akhirnya, Rara pun memberi pengumuman di depan kelas “Temen-temen, Sastri sekarang di rawat di rumah sakit. Apa kalian gak ada keinginan ngejenguk dia? Walau kalian dalam kondisi ga baik, tapi dia tetep temen kita” Arda pun menjawab “Hah, sejak kapan dia d rumah sakit? Kita kok gak tau berita ya? Sakit apa dia Ra? Parahkah?” Rara terkejut, ternyata teman-temannya memang tidak mengetahui keadaan Sastri. “Yuk kita jenguk dia, bawain makanan dan semangatin dia” ucap Bima disertai anggukan tanda setuju oleh teman-teman sekelasnya.
Ketika sampai di rumah sakit, mereka segera menemui Sastri yang terlihat lemah. Ia sepertinya sedang menangis saat Rara masuk ke kamarnya terlebih dahulu “Sas, kamu kenapa nangis?” Sastri terkejut sejenak dan akhirnya menjawab “Hmm aku gak nangis kok, cuma sedikit berpikir” “Ayolah ceritain aku Sas” bujuk Rara. “Kamu tau kan kondisi keluargaku yang gak punya banyak uang, ditambah sekarang aku masuk rumah sakit, aku kasihan ngeliat orang tuaku banting tulang kerja untuk bayar rumah sakit”.  “Kita bisa bantu kok Sas, kita bakal nyumbang sebisa kita” terdengar suara Yudi yang berjalan masuk ke kamar Sastri diikuti teman-teman lainnya. “Kalian datang?” ucap Sastri lirih. Tangisnya pun pecah karena menyesal sekaligus bahagia. “Maafin aku temen-temen, aku telah salah menilai kalian. Aku egois, tapi kalianlah yang terbaik. Maaf sekali lagi”. Sari pun mendekat dan memeluk Sastri “Kami maafin kamu kok, semoga kamu bisa nganggap kami selayaknya teman, yang saling membantu satu sama lain”. “Kecuali saat ulangan” celetuk Bima disambut gelak tawa oleh teman-teman lainnya.

Setiap manusia lahir sudah dibekali garis tangan yang di percaya sebagai takdir atau jalan hidup masing-masing. Roda kehidupan akan selalu berputar. Janganlah kau lupa ketika kau berada di atas, karena suatu ketika, kau akan terperosok jatuh ke bawah. Dan saat berada di bawah, janganlah berputus asa dan keajaiban akan datang menghampirimu

-LucyKGD

Komentar

  1. Alurnya menarik, sesuai perkiraanku diawal, kyaknya ceritanya pernah atau sedang dialami penulis hehe...

    BalasHapus
  2. makasii sudah ngasi feedback kak.. bisa di bilang ini pengalaman hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Recipes

ESAI

CERPEN SMA