ESAI
Pukul 11.18 dan aku masih berkutat dengan tugas bahasa Bali untuk buat pidato dan dharma wacana. well pidatonya udah selesai dan sekarang lagi nyari referensi buat dharm wacana. Anyw, ini akan aku share salah satu esai yan dulu aku sempet lombain tapi ga lolos :v. Semoga berkenan untuk membaca dan semoga bermanfaat yaa
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Malu
Menyapa, Sesat di Masyarakat
Ni Kadek Lucy
Kharisma Dewi Griadhi
PENDAHULUAN
Indonesia adalah sebuah
Negara kepulauan yang memiliki banyak penduduk. Menurut Badan Pusat Statistik
(BPS), penduduk Indonesia per tahun 2017
berjumlah 261,890,090 jiwa yang heterogen yaitu terdiri dari beranekaragam
adat istiadat, suku, bahasa, dan juga tradisi. Indonesia juga kaya akan
berbagai macam budaya dimana budaya merupakan hasil cipta dan karsa manusia. Lehman,
Himstreet, dan Batty mendefinisikan
budaya sebagai kumpulan beberapa pengalaman hidup yang ada pada sekelompok
masyarakat tertentu. Pengalaman hidup yang dimaksud bisa berupa kepercayaan,
perilaku, & gaya hidup suatu masyarakat. Berdasarkan definisi tersebut,
dapat diketahui bahwa budaya sangatlah erat kaitannya dalam kehidupan
bermasyarakat. Budaya tidak hanya berhubungan dengan seni namun budaya juga
menyangkut dengan bagaimana kita bertingkah laku di masyarakat.
Salah satu budaya yang
dimiliki Indonesia adalah budaya bertegur sapa yang kerap dilakukan masyarakat.
Bertegur sapa adalah kegiatan saling memberi sapa atau salam antar dua orang
atau lebih dan merupakan suatu bentuk etika di masyarakat. Etika
adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang
sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya (K. Bertens, 1994), sementara masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang
berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu
dan terikat oleh suatu rasa identitas yang sama (Koentjaraningrat, 1994).
Budaya bertegur sapa merupakan
etika ketimuran yang menjadi ciri khas penduduk Indonesia di mata dunia. Budaya
ini sudah menjadi kebiasaan yang telah dilakukan masyarakat Indonesia sejak
jaman dahulu. Namun, kebiasaan ini semakin terlupakan seiring dengan terjadinya
globalisasi.
Globalisasi sebagai proses perubahan atau penyebaran
unsur-unsur baru seperti gaya hidup, kebudayaan, teknologi, dan sebagainya
seiring berkembangnya pengetahuan manusia yang berjalan secara mendunia dapat
menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia, dimana teknologi mulai
mendominasi dalam kehidupan. Individualisme yang semakin tinggi mengakibatkan
terjadinya perubahan etika di masyarakat seperti yang dialami oleh para remaja
masa kini.
Pengguna
teknologi terbanyak berupa gadget seperti
handphone, laptop, tablet, dan
sebagainya adalah remaja. Remaja yang tumbuh difasilitasi teknologi atau gadget cenderung memiliki tingkat
kepedulian rendah. Misalkan pada saat
berkumpul bersama, remaja cenderung lebih memperhatikan gadget-nya dibandingkan untuk mengobrol dengan orang di sekitarnya.
Pengaruh gadget yang besar juga
menyebabkan para remaja melupakan etika yang telah ada sejak lama di Indonesia.
Seorang remaja yang sudah tidak terbiasa untuk melakukan budaya bertegur sapa
kepada orang lain cenderung merasa enggan jika harus melakukannya terutama
kepada orang baru karena didasari oleh perasaan malu. Jika hal ini terus berlangsung,
maka dapat diperkirakan generasi mendatang akan mencontoh perilaku remaja
tersebut dan budaya bertegur sapa semakin terlupakan dan hilang.
Berdasarkan paparan di atas maka esai ini dibuat untuk
membahas lebih lanjut mengenai perasaan malu atau enggan untuk bertegur sapa di
kalangan remaja dan bagaimana cara menanggulanginya. Dengan demikian,
diharapkan agar budaya bertegur sapa dapat dipertahankan hingga generasi ke
generasi mendatang.
ISI
Keberadaan teknologi di masa kini cenderung mengikat
masyarakat untuk bersifat individual dan anti sosial. Remaja masa kini sebagai
pengguna terbanyak teknologi akan tumbuh lebih individual dibandingkan generasi
sebelumnya. Teknologi juga dapat menimbulkan sifat yang
cenderung malas. Seringkali pengguna teknologi, khususnya para remaja tenggelam
dalam dunia nya sendiri dan tidak mempedulikan sekitarnya, banyak dari mereka yang
lebih sering berinteraksi dengan teman dunia maya dibandingkan dengan teman
dalam dunia nyata. Hal ini mempengaruhi sifat seseorang yang cenderung sulit
bila harus di hadapkan dengan masalah dan masyarakat dalam kehidupan nyata. Teknologi juga berpengaruh terhadap budaya menyapa,
dimana sifat individual yang disebabkan oleh keberadaan teknologi mengakibatkan
remaja tidak terbiasa untuk menyapa yang akhirnya menimbulkan perasaan malu
menyapa.
Malu adalah sebuah
perasaan saat manusia merasa tidak nyaman atau tidak sesuai dengan kebiasaan. Supriyo
(2008: 32) menyebutkan bahwa malu adalah rasa tidak nyaman, cemas atau tacit di
dalam setiap kegiatan sosial khususnya karena mereka tidak memahami
lingkungannya. Malu
dapat muncul di saat tertentu seperti saat kita melakukan hal yang melanggar
norma, saat kita mengalami kegagalan dalam sesuatu yang bisa kita lakukan, saat
kita tampil berbeda dari yang umumnya, dan sebagainya. Perasaan malu juga dapat
timbul di saat seseorang melakukan perbuatan yang tidak biasa ia lakukan,
seperti perasaan malu untuk menyapa orang baru karena tidak terbiasa. Lambat
laun perasaan malu ini dapat menjadi perasaan enggan untuk bertegur sapa dengan
orang lain.
Fenomena enggan menyapa
sering terjadi di daerah perkotaan dengan tingkat kepadatan tinggi. Faktor yang
menyebabkan rendahnya budaya menyapa di daerah perkotan diantaranya tininya
kesibukan penduduk yang mengakibatkan rendahnya sosialisasi sesama penduduk
kota khususnya di lingkungan rumah. banyaknya penduduk pendatang baru di kota
juga semakin menyulitkan sosialisasi penduduk dengan skala waktu untuk di rumah
sangat kecil. Hal ini membuat penduduk, terutama para remaja yang tinggal di
lingkungan kota jarang bertegur sapa dengan tetangga di lingkungan sekitarnya.
Para remaja cenderung memilih untuk diam di rumah dan berselancar di dunia maya
melalui gadget dibandingkan sekedar
bertegur sapa dengan tetangga sekitarnya.
Keadaan yang berbeda
diperlihaatkan oleh kehidupan pedesaan, dimana tingkat kepedulian sosial masih
sangat kental dirasakan di desa. Kepadatan dan kesibukan yang rendah membuat
masyarakat desa mudah mempertahankan budaya dan etika bermasyarakat. Selain
itu, tradisi yang masih kental di pedesaan, dimana untuk menjalankan sebuah
tradisi harus meliputi sebagian besar masyarakat desa juga membuat tingginya
rasa kebersamaan di pedesaan. Contohnya adalah tradisi ngayah yang dilakukan oleh masyrakat di sebagian besar desa di
Bali. Sosialisasi yang terjadi selama menjalankan tradisi semakin menguatkan
hubungan kekerabatan antar penduduk desa. Hal ini membuat perasaan malu atau
enggan menyapa jarang terjadi di daerah pedesaan.
Perbedaan kondisi di atas
tidak jarang menimbulkan pandangan buruk atau stigma terhadap masyarakat
perkotaan. Stigma berarti sebuah fenomena yang terjadi ketika
seseorang diberikan labeling, stereotip,
separation, dan mengalami diskriminasi (Link Phelan dalam Scheid &
Brown, 2010). Masyarakat perkotaan dinilai sombong dan cuek dalam
bermasyarakat. Maka dari itu, upaya untuk membangun kembali budaya bertegur sapa
sangat diperlukan untuk menghilangkan stigma tersebut dan melestarikan budaya
sebagai warisan untuk generasi mendatang.
Upaya yang dapat dilakukan diantaranya
dengan melatih keberanian dalam diri untuk memulai bertegur sapa dengan orang
lain, khususnya orang baru. Dengan cara tersebut, kita dapat membiasakan diri
untuk bersikap ramah terhadap orang lain dan meningkatkan kepedulian terhadap
lingkungan sekitar. Faktor orang tu juga berpengaruh dalam melatih keberanian
anak untuk bertegur sapa. Kebiasaan orang tua untuk bertegur sapa terhadap
orang lain akan dicontoh anak-anaknya dan dijadikan kebiasaan dalam
bermasyarakat.
PENUTUP
Keberadaan teknologi pada era globalisasi
membuat kita terlalu hanyut dalam kemudahan hingga lupa dengan kehidupan yang
nyata. Rendahnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar menjadikan budaya
bertegur sapa semakin jarang dilakukan. Perasaan malu dan enggan menjadi alasan
utama untuk tidak menyapa masyarakat di lingkungan sekitar. Secara tidak
langsung, perasaan ini dapat mengakibatkan hilangnya salah satu budaya
Indonesia.
Budaya merupakan bagian penting yang
mendasari sebuah bangsa. Bangsa tanpa adanya budaya bisa diibaratkan sebagai
rumah tanpa pondasi. Budaya juga merupakan ciri khas suatu bangsa yang telah
diketahui dan dikenal oleh dunia luar. Budaya sebagai warisan leluhur harus
dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.
Keberadaan budaya harus dipertahankan meski globalisasi terjadi di seluruh
dunia dengan melakukan beberapa upaya sehingga budaya Indonesia dapat
diwariskan kepada generasi mendatang
Komentar
Posting Komentar