Menunggu Bel itu Berbunyi
Siang ini, di dalam kelas yang dalam kondisi serius, berkutat dengn kertas ulangan prakarya. berbagai rangkaian listrik seolah melilit di otakku, kusut. Apa sebenarnya gambar ini, aku tak mengerti. Ku baca perlahan, rasanya aku sempat membacanya saat belajar tadi. Tapi sekarang, stupun tak ada ingatanku tentang apa yang ku baca sebelumnya. Semakin aku mencari, ingatan tentang gambar ini semakin menghilang, lenyap. Putus asa. Hanya itu perasaanku sekarang. Dengan sengaja aku memejamkan mata, mencoba melupakan hal hal berbau listrik ini.
Tiba-tiba alunan musik yang familiar memenuhi pikiranku. River flows in you tetap bergaung bahkan saat aku sudah membuka mata kembali.
Entah kenpa bulu kuduk ku merinding, merasakan kesedihan tanpa sebab hanya karena mengingat alunnnya yang serasa menusuk hati. Aku memang tidak mengerti makna lagu ini sesungguhnya, namun aku bisa merasakannya, perasaan sedih yang tidak terdefinsi. Lagu itu tetap terkurung dalam ingatanku seolah ingin memunculkan kembali kenangan tentangnya yang sudah mulai berhasil aku kubur di dalam hati.
Ku putuskan untuk menyetor kertas ini terlebih dulu, berharap agar bayang bayang lagu itu tak terdengar lagi. Keluar dari kelas, aku berjalan menuju kantin. Lagu itu perlahan hilang tergantikan bunyi berbagai alat marching band yang sedang dimainkan. Setidaknya, aku dapat menghilangkan perasaan sedih itu. Sudah cukup waktu yang ku habiskan hanya untuk meratapi sesuatu yang tak penting. Kini saatnya melangkah maju membuka lembaran baru.
Tiba-tiba alunan musik yang familiar memenuhi pikiranku. River flows in you tetap bergaung bahkan saat aku sudah membuka mata kembali.
Entah kenpa bulu kuduk ku merinding, merasakan kesedihan tanpa sebab hanya karena mengingat alunnnya yang serasa menusuk hati. Aku memang tidak mengerti makna lagu ini sesungguhnya, namun aku bisa merasakannya, perasaan sedih yang tidak terdefinsi. Lagu itu tetap terkurung dalam ingatanku seolah ingin memunculkan kembali kenangan tentangnya yang sudah mulai berhasil aku kubur di dalam hati.
Ku putuskan untuk menyetor kertas ini terlebih dulu, berharap agar bayang bayang lagu itu tak terdengar lagi. Keluar dari kelas, aku berjalan menuju kantin. Lagu itu perlahan hilang tergantikan bunyi berbagai alat marching band yang sedang dimainkan. Setidaknya, aku dapat menghilangkan perasaan sedih itu. Sudah cukup waktu yang ku habiskan hanya untuk meratapi sesuatu yang tak penting. Kini saatnya melangkah maju membuka lembaran baru.
Komentar
Posting Komentar