CERPEN SMA
Merdu
Matahari
mulai mengintip dari ufuk timur. Sinarnya yang cekatan menyusup diantara celah
bangunan besar di timur lapangan. Perlahan, pipi kiriku terasa hangat, diterpa
lembut oleh pancaran sang surya. Ya, hari ini sama seperti sebelumnya, dimana
para siswa berkumpul di lapangan mengikuti kegiatan pagi sebelum masuk ke kelas
masing-masing.
“aw,
pipiku serasa terbakar. Mungkin sekarang wajahku sudah belang karena sinar ini
hanya menerpa pipi kiriku” omel teman karibku, Radha.
Ia
memang salah satu perempuan ter-cerewet yang aku kenal. Keberadaan tahi lalat
di pinggir bibirnya semakin menegaskan bahwa ia cerewet dari lahir.
“udahlah
tahan sebentar lagi” pintaku padanya.
Aku,
Lala Amalia, siswa kelas XI bahasa yang bisa di bilang biasa saja. Aku tidak memiliki
kelebihan yang patut dibanggakan, ya walau aku bisa menyanyi sih. Bahkan, itupun tidak bisa ku
katakana sebagai kelebihanku karena banyak orang juga bisa melakukannya.
“Seluruh
siswa dipersilahkan menuju kelasnya masing-masing”
Suara
pengurus osis itu dengan otomatis mebuat seluruh siswa bergerak dan juga
pastinya, ribut. Kami pun bergegas menuju kelas walau ada sebagian besar yang
beralih menuju ke kantin.
“La
aku ke toilet sebentar ya.Mau cuci muka” ucap radha di tengah perjalanan menuju
kelas.
“Ya
udah, aku duluan ya” jawabku.
Saat
itu aku sedang menyusuri jalan setapak diantara rindangnya deretan pohon palem
di sekolahku.
“Wise Men say, only fools rush in”
Aku
mulai bernyanyi. Situasi sendiri seperti saat ini memang sangat pas jika dilampiaskan
dengan nyanyian.
“But I can’t help falling in love with you”
Ku lanjutkan lantunan lagu tersebut. Menyanyi
membuat bulu kudukku merinding seolah aku merasakan setiap liriknya.
“Shall I stay, would it be a sin? If I can’t help falling in love
with you”
Akhirnya
ku akhiri lagu yang lebih cocok dibilang bisikan tersebut. Tiba-tiba..
“Prok-prok-prok”.
Terdengar
suara tepuk tangan yang mengagetkanku. Siapa
dia? Batinku.
“Suaramu
merdu, aku benar-benar terharu mendengarnya. Kau sungguh berbakat” ucapnya
seraya berjalan ke arahku dengan senyuman manis yang tersugging di wajahnya.
“Makasih”
ucapku sopan dan seadanya.
“Sama-sama”
jawabnya sambil berlalu pergi.
Tepat
setelah itu, Radha datang dan menghampiriku yang sedang menatap lurus kearah
laki-laki tersebut hingga akhirnya ia tak terlihat lagi.
“Woy
kok bengong?” tanya Radha padaku.
“Siapa
ya dia?” gumamku mengabaikan pertanyaan Radha.
“Lala
Amalia cantik jelita sejagat kayangan, ada apa gerangan?” tanya Radha sekali
lagi. Kini dengan nada yang lebih tinggi.
“Hah?
Oh emm gak kok gak kenapa” jawabku linglung.
Sedetik
kemudian aku menambahkan lagi.
“Kamu
lihat laki-laki yang tadi lewat sini?”.
“Lihat”
jawabnya.
Aku
kaget dan menjadi penasaran.
“Siapa
namanya?” tanyaku lagi.
“Argi”
jawab Radha
“Baiklah,
jadi namanya Argi” bisikku dalam hati.
***
Argi, nama yang selalu terbayang di otakku. Saat ini aku
sedang mencari sang pemilik nama tersebut. Entah dengan cara apa aku dapat
menemukannya. Aku tidak akan menanyakannya pada Radha, karena itu terlalu mencurigakan.
Maka kuputuskan untuk mencarinya namun tetap membiarkan waktu yang akan mempertemukan
kita.
Pagi
itu, aku sedang berada di depan sekolah sambil menunggu angkutan umum melintas
di jalan raya.
“Lala”
Panggil
seorang siswa perempuan bernama Ani. Ia membawa sebuah boks ukuran sedang yang
dihias menyerupai kado. Ia menyodorkannya padaku.
“Ini
ada titipan” ucapnya.
“Dari
siapa?” tanyaku bingung.
“Kurang
tahu, gak ada nama pengirimnya. Hanya ada namamu yang tertera disana” jawab
Ani.
Ani
pun pamit undur diri setelah aku berterimakasih padanya. Siapakah yang mengirim ini? Mungkinkah Argi? Dugaku dalam hati.
Namun sepertinya tidak mungkin ia pengirimnya. Aku menghapus dugaanku itu.
***
Sesampainya
di rumah, aku segera membuka bingkisan itu. Boks biru berhias pita emas itu
membungkus sebuah miniature piano yang ternyata adalah kotak music. Didalamnya
pula terdapat sebuah surat kecil yang bertuliskan Untukmu Lala di pojok kanan atasnya. Ku baca isi surat tersebut
yang ternyata berisi rangkaian puisi romantic. Di bawah surat itu berisi nama
pengirimnya, “Kazandy”. Siapa ini?
Batinku. Aku tidak pernah mendengar nama itu. Akupun menyimpan boks itu dan
bergegas untuk tidur.
Keesokan
harinya di sekolah, aku bertanya pada Radha mengenai nama Kazandy, namun
hasilnya nihil. Ia tidak pernah mendengarnya juga. Hari-hari berikutnya berlalu
dan aku selalu mendapat kiriman dari Kazandy, entah berupa surat maupun barang.
Aku semakin penasaran dan rasa penasaran ini mendesakku untuk mencari tahu.
“Hey
Argi”
Suara
Radha yang keras membuatku terkesiap. Argi, nama yang sedikit ku lupakan karena memikirkan Kazandy. Benar,
seharusnya aku mencari tahu tentang Argi.
“Ngapain
kesini kau Argi?” tanya Radha lagi.
Aku
membeku. Radha sedang berbicara pada Argi. Argi yang memuji nyanyianku. Aku tak
berani menoleh ke arahnya. Aku gugup. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat
dan keringat dingin membasahi tanganku.
“Mau
nyari Lala” jawab Argi.
Aku
tak sempat pikir bahwa Argi akan mencariku. Ya tuhan aku semakin gugup. Namun
tunggu sebentar. Mengapa suara Argi berbeda? Aku pun menoleh ke arahnya dengan
sedikit gugup. Argi? Apakah dia yang namanya Argi? Tapi dia bukan orang yang
aku cari. Aku pun menghampirinya dan bertanya mengapa ia ingin menemuiku. Dan
yah, dia membawa surat. Ku baca surat itu secara perlahan.
“Di bawah rentetan pohon cemara,
istirahat kedua. Kazandy”
Baiklah,
Kazandy mengajakku bertemu. Rasa penasaranku akan berakhir sebentar lagi.
***
Jam
istirahat kedua dimulai. Aku segera melesat menuju tempat yang telah ditunjuk
Kazandy. Aku ingin ini segera berakhir. Aku lelah dengan rasa penasaranku itu.
Setibanya di sana, aku melihat seseorang sedang berdiri memunggungiku.
Mungkinkah ini Kazandy? Akhirnya aku berdeham kecil untuk menyadarkannya. Orang
tersebut sadar dan segera berbalik. Ternyata dia adalah oang itu. Orang yang
memuji nyanyianku. Orang yang bernama Kazandy. Kazandy tersenyum ke arahku.
Untuk beberapa saat kami bungkam seribu bahasa karena sibuk dengan pikiran
masing-masing. Tanpa sadar, aku meneteskan air mata. Akhirnya aku menemukanmu,
Kazandy.
***
Beberapa hari sebelumnya….
“Aduh
toiletnya penuh lagi” gerutu Radha dengan sebal.
Sebelumnya,
ia sedang bergegas menuju kelas hingga ia sadari bahwa wajahnya yang sangat
mulus itu tampak sedikit gosong karena terpaan sinar matahari. Akhirnya ia
menuju ke toilet namun sialnya toilet penuh. Tiba-tiba salah satu pintu terbuka
dan di dapatinya Argi keluar dari toilet tersebut. Argi tampak terburu-buru dan
segera berlari entah kemana. Di kejauhan, terlihat Lala sedang menyusuri jalan
setapak dengan lamban.
“Awas
saja, Argi pasti akan menabrak Lala” tebak Radha seraya masuk ke toilet.
Namun
ternyata dugaan Radha salah. Argi malah berbelok menuju kantin tepat sebelum Lala
melihatnya.
STORY BY : LUCYKDG
Cie cieee aktif lagi nih blognya...dulu gak begitu sama blogspot.. qikqikqik.....
BalasHapus