Tinder Experience
Hai,, Aku kembali lagi. Jadi sesuai judulnya, kali ini aku bakal bahas mengenai pengalaman aku sebagai seorang pengguna Tinder.
Wait, Tinder itu apa sih?
Oke jadi yang belum tau apa itu Tinder bisa baca baik baik ya. Tinder itu sejenis aplikasi biro jodoh yang cukup tenar lah di kalangan para jomblo. Ya mungkin yang nonjomblo juga ada yang tau app ini sih ya. Jadi, di aplikasi ini kita bisa ketemu berbagai jenis manusia.
Oke cara kerjanya sih gampang. Cuma dengan swipe right setiap foto profi pengguna yang kiranya menarik di mata kita. Ini baru di "mata" lho ya belum di hati.
Nah selanjutnya, kalau orang yang kita swipe right fotonya juga melakukan hal yang sama pada foto kita, maka kita bisa langsung terkoneksi dengan dia dan bisa mengirim pesan. Istilahnya doi dan kita itu match. Jadi berakhirlah tugas Tinder untuk saat ini dan selanjutnya kewenangan ada di tangan user.
oke jadi itu sekilas tentang Tinder and now, let my story begins..
jadi, aku tau aplikasi ini dari postingan salah satu pengguna Instagram yang katanya ketemu sama pacarnya itu berkat alikasi Tinder. Nah, aku yang notabene suka coba-coba dan kebetulan juga sedang jomblo kan iseng tuh pengen tau jadi aku instal-lah aplikasi ini.
singkat cerita emang bener aku ketemu banyak user yang kece dan good looking lah ya. Nah akhirnya banyak deh yang match sama aku. Ada beberapa yang langsung ngechat nih yaudah aku tanggepin sewajarnya aja. Oh ya, bocoran dikit nih, sebagian besar cowo pengguna Tinder akan memulai chat dengan "hai", "hallo", "hai salam kenal" dan sebagainya. Nah aku anggap wajar lah ya, orang sapaan emang gitu. Tapi, sangat disayangkan, sebagian besar match yang aku temuin itu obrolannya itu bisa dikatakan "membosankan" kenapa? karena nanya mulu. Kaya contohnya "Dari mana?", "Kelas berapa?", "Udah lulus?", "Kuliah dimana?", dsb. Aduh jujur aku menghargai, tapi itu gak menarik bagi aku. Ga tau untuk cewe lain ya, ehe. "Terus yang menurut kamu menarik itu kya gimana?" oke itu aku bahas nanti, sekarang lanjut ceritanya dulu.
Singkat cerita, aku ga nemuin orang yang menarik di Tinder untuk instalan kala itu. Yaudah lah daripada menuhin HP yaudah aku hapus. Nah selang waktu berjalan, ada nih orang yang ngechat aku via Line, seriinggg banget ngechat. Sumpah aku terusik banget. Bukan karena tampangnya, tapi sekali lagi karena konten pesannya ga menarik. Membosankan. FYI aku tipe orang auran yang humoris. Bahkan sedikit garing. ehe. Ada juga nih yang ngechat via WA kayaknya, aku lupa. Lagi-lagi aku menghindar eheheh selalu gini kalau aku ada yang deketin via chat. Seketika langsung benci sama si cowo kalau emang aku ga suka. Termasuk ada temen aku juga, yang pernah bilang suka sama aku via chat, padahal sebelumnya ga ada tanda-tanda ngedeketin. Seketika deh aku berubah menjadi ga nyaman ketemu dia, canggung, dan risih. Na dari sana aku simpulin kalau aku ga bisa deket sama orang via chat. Sampai aku deklarasiin deh ke sahabat-sahabat aku kalau aku benci orang asing yang ngedeketin via chat. Sampai suatu ketika aku instal lagi Tinder karena masih penasaran dan aku ketemu seorang user yang cukup menarik hati. Bukan karena doi ganteng (wong fotonya kelihatan setengah kok) tapi karena cara chatnya yang ga biasa. Dia pertama nyapa dengan mengirim stiker.
Doi : Stiker tawa*
Stiker hati*
Aku : "Kuliah/Kerja?"
Doi : "Kuliah"
Aku : "Ohh,, ada ig?"
Doi : "Ada,, @b-----
Aku : "Oke nanti aku follow"
Doi : "Yoi"
Nahh saat itulah aku bingung. lho, tumben nih gak nanya ini itu. Yaudah aku diemin kan orang tsb. Tapiii,,selanjutnya malah aku yang penasaran, yaudah aku lanjutin.
Aku : "Kuliah dimana kak?"
Doi : "Jangan panggil kak, umurku baru 18 (tertulis di profil 19). Oktober baru 19"
Aku : "Oh ya? aku 19 bulan November"
Doi : "Yaudah berarti kita seumuran"
nah berlanjut dah terus obrolannya.Ternyata Doi emang beda setahun jenjang pendidikannya, tapi umur kita beda sebulan. Kita ngobrolin berbagai hal, dan ternyata Doi tinggal deket kosan aku, tapi lagi ngerantau di tempat kuliah. Nahh waktu berlanjut, kita ngobrolin hal gaje dan hal penting sekaligus.Yaudah karena merasa nyaman, kita tukeran WA deh. Obrolan berlangsung di WA lagi. sebenernya ada sih potongan SS chatnya cuma males aku share wkwk.
Waktu itu aku belum tertarik sama dia, cuma seneng aja akhirnya ketemu orang yang asik dari aplikasi ini. Selang waktu berlanjut perasaanku berubah. Walau aku belum pernah ketemu orangnya secara langsung, tapi melalui obrolan yang sangat amat mengasyikkan, aku mulai merasa nyaman sama dia. Rasanya kaya udah kenal lama. Mungkin karena kita dari kabupaten yang sama,jadi cara penggunaan bahasa dan gurauan itu jadi nyambung. Berarti kesimpulan aku sebelumnya yang menganggap kalau aku ga bisa suka sama cowo dari chat itu salah.
Oke, jadi lanjut. Saat itu kebetulan malam minggu dan dia nanya aku, apa mau ketemuan atau gak. Jadi gini pesannya.
Aku : "Sabtu besok gak pulang kampung?"
Doi : "Terus kamu maunya aku pulang atau gak?"
Aku : "Kok nanya sama aku ?"
Doi : "Ya, karena kau penentu jalan hidupku"
glegg*
Anjer nih orang bisa ya ngegombal saat aku nanya serius. Semenjak saat itulah obrolan yang awalnya isinya lelucon yang lucu dan bikin sakit perut karena ketawa berubah jadi gombalan gombalan kacang ala cowo gitulah. Semakin lama, keinginanku ketemu itu makin besar. Ingin bilang rindu, tapi belum pernah bertemu. Btw pas itu dia ga jadi pulang karena aku mau ujian praktek jadi aku usulin habis ujian sekolah (aku kelas 3 SMA pas itu) kita ketemuannya.
Waktu terus berlalu, perasaanku kian diterbangkan ke angkasa hingga suatu ketika, saat aku sudah berada di puncak...
Aku jatuh bebas
Yaa, dia menghilang. Awalnya mulai bales chat dengan interval yang cukup lama, lama, lama banget.
Coba deh bayangin gimana perasaan aku waktu itu. Saat harapan bener bener seolah nyata untuk diwujudkan, tiba tiba harapan itu kian memudar dan hilang.
Sakit?
Wah jangan ditanya. Menangisi sesuatu yang belum nyata itu rasanya perih. Hmm jadi ceritanya dia tu hilang sementara, sampai akhirnya dia muncul lagi dan bilang
"Aku balikan sama mantan aku"
Well done! it's over. Segitu bodohnya ya aku sampai ga tau mana asli mana palsu?
Aku ketawa, bukan karena bahagia. Tapi lebih ketawa miris atas kebodohan diriku.
Yasudah, mau gimana lagi. Ini bukanjalanku, belum tentunya.
Trauma gak pake app Tinder?
Hmm nyesel sih engga, karena Tinder ga salah. Tinder malah yang buat aku ketemu sama dia jadi pernah ngerasa bahagia sementara tapi tetap buat aku percaya kalau diluar sana, pasti ada orang yang bisa gantiin dia.
Oke, jadi lanjut. Saat itu kebetulan malam minggu dan dia nanya aku, apa mau ketemuan atau gak. Jadi gini pesannya.
Aku : "Sabtu besok gak pulang kampung?"
Doi : "Terus kamu maunya aku pulang atau gak?"
Aku : "Kok nanya sama aku ?"
Doi : "Ya, karena kau penentu jalan hidupku"
glegg*
Anjer nih orang bisa ya ngegombal saat aku nanya serius. Semenjak saat itulah obrolan yang awalnya isinya lelucon yang lucu dan bikin sakit perut karena ketawa berubah jadi gombalan gombalan kacang ala cowo gitulah. Semakin lama, keinginanku ketemu itu makin besar. Ingin bilang rindu, tapi belum pernah bertemu. Btw pas itu dia ga jadi pulang karena aku mau ujian praktek jadi aku usulin habis ujian sekolah (aku kelas 3 SMA pas itu) kita ketemuannya.
Waktu terus berlalu, perasaanku kian diterbangkan ke angkasa hingga suatu ketika, saat aku sudah berada di puncak...
Aku jatuh bebas
Yaa, dia menghilang. Awalnya mulai bales chat dengan interval yang cukup lama, lama, lama banget.
Coba deh bayangin gimana perasaan aku waktu itu. Saat harapan bener bener seolah nyata untuk diwujudkan, tiba tiba harapan itu kian memudar dan hilang.
Sakit?
Wah jangan ditanya. Menangisi sesuatu yang belum nyata itu rasanya perih. Hmm jadi ceritanya dia tu hilang sementara, sampai akhirnya dia muncul lagi dan bilang
"Aku balikan sama mantan aku"
Well done! it's over. Segitu bodohnya ya aku sampai ga tau mana asli mana palsu?
Aku ketawa, bukan karena bahagia. Tapi lebih ketawa miris atas kebodohan diriku.
Yasudah, mau gimana lagi. Ini bukanjalanku, belum tentunya.
Trauma gak pake app Tinder?
Hmm nyesel sih engga, karena Tinder ga salah. Tinder malah yang buat aku ketemu sama dia jadi pernah ngerasa bahagia sementara tapi tetap buat aku percaya kalau diluar sana, pasti ada orang yang bisa gantiin dia.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar